Connect with us

INCENTIVE

Berkenalan dengan Desa Adat Kabupaten Lebak, Suku Baduy

Published

on

LEBAK – Banyak sekali kebudayaan yang ada d Banten, salah satunya Upacara Seren Taun yang dilakukan oleh masyarakat Baduy. Seren taun adalah upacara adat panen padi masyarakat Sunda yang dilakukan setiap tahun. Upacara ini berlangsung khidmat dan semarak di berbagai desa adat Sunda. Upacara adat sebagai syukuran masyarakat agraris ini diramaikan ribuan masyarakat sekitarnya.

Dalam iringan suara instrumen musik yang mengiringinya. Di antara instrumen musik pengiring prosesi adat Seren Taun, terdapat alat musik bambu yang disebut angklung buhun. Kebudayaan ini bisa juga disebut kebudayaan tradisi, yang dimana makna pemakaiannya berkaitan dengan adat kebiasaan turun temurun dari nenek moyang, dan masih dijalankan sampai saat ini.

Upacara Seren Taun mengandung makna serah terima tahun lampau ke tahun yang akan datang, dan merupakan bentuk syukur ke Tuhan atas hasil panen mereka dengan harapan agar di tahun selanjutnya hasil panen mereka lebih baik lagi.

Upacara Seren Taun diselenggarakan di daerah Baduy dan Kasepuhan. Secara umum ada dua kegiatan budaya yang melibatkan ribuan masyarakat adat dan pemerintah. Pada hari pelaksanaan, acara Balik Taun Rendangan merupakan acara pembuka, Rendangan berarti seluruh keturunan Kasepuhan Banten Kidul, dan ritual berikutnya adalah Ngareremokeun yaitu memasukkan padi ke dalam lumbung (leuit).

Upacara dimulai dengan pembakaran kemenyan yang dilakukan oleh Dukun Pangampih sebagai Pemimpin Upacara disertai pembacaan mantra dan do’a, agar padi yang disimpan dalam lumbung utama dapat mencukupi kebutuhan warga dan panen di tahun mendatang melebihi hasil panen tahun ini. Dilakukan juga iring-iringan yang di ikuti oleh penghantar pembawa padi utama terdiri dari tiga orang wanita yang sudah menopause dan dua orang gadis pemikul rengkong dan beberapa orang pria pembawa padi, pemain Gondang, dan pemain Toleat. (*/hendri/ygi)

EVENT-EXHIBITION

Terkendala Wabah Covid-19, Agenda FFPAC 2020 Terus Berjalan

Published

on

CILEGON – Instruksi pemerintah meliburkan lembaga pendidikan sebagai upaya meredam wabah virus Covid 19, menjadi kendala tersendiri bagi tahapan pelaksanaan Festival Film Pendek Anyer-Cinangka (FFPAC) 2020. Begitu pula dengan himbauan agar masyarakat tinggal di rumah selama 2 pekan, membuat sejumlah peserta menunda proses syuting film pendeknya.

“Dari puluhan permintaan Surat Pengantar Syuting di Hotel yang sudah kami terbitkan, ternyata banyak di antaranya adalah dari kalangan pelajar yang ikut ekskul film di sekolahnya. Mereka ini mengajukan surat pengantar baru karena tidak diizinkan beraktivitas selama dua pekan, yakni mulai 16 Maret lalu,” terang Ketua Pelaksana FFPAC 2020, MW Fauzi.

Kendala lain yang dihadapi peserta adalah studio jasa editing film yang juga memilih tidak beroperasi untuk sementara waktu. “Jadi ada juga peserta yang sudah syuting tapi filmnya belum bisa diedit,” ujar Fauzi.

Untuk tahapan agenda FFPAC 2020 yang disiapkan panitia pun ada yang terpaksa ditunda. Utamanya yang menyangkut lembaga pendidikan seperti roadshow FFPAC 2020 dan pelatihan film pendek ke sekolah dan kampus. “Hingga akhir Maret, seharusnya sudah ada dua SMK dan satu kampus yang dikunjungi. Tapi semuanya ditunda. Ini tentu demi kebaikan bersama,” papar Fauzi.

Meski demikian, ditegaskan Fauzi, pihak panitia yakni Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI) Kab. Serang dan PASTV sepakat untuk tidak memundurkan pelaksanaan FFPAC 2020. Saat ini proses pendaftaran pun masih berjalan.

“Sejak semula, ajang ini memang dibuat dalam durasi panjang, yakni hingga bulan Juni 2020. Kami saat ini terus memantau perkembangan yang terjadi. Namun yang utama tentu saja kita semua berharap wabah virus Corona,” pungkas Fauzi. (*/anton/yogi)

Continue Reading

EVENT-EXHIBITION

Gowes Nusantara Menuju Pilkada Serentak Diikuti 1500 Goweser

Published

on

SERANG – Satgas Nusantara Polres Serang Kota Polda Banten, adakan ‘Gowes Nusantara Menuju Pilkada Serentak’ tahun 2020 yang Aman, Damai dan Sejuk berlangsung di Alun-alun Kota Serang, Minggu (8/3/2020).

Acara dilepas oleh Kapolres Serang Kota AKBP Edhi Cahyono, didampingi Wakapolres Serang Kota Kompol Mi’rodin. Ketua Bawaslu Kabupaten Serang, Ketua KPU Kabupaten Serang, PJU Polres Serang Kota, Kapolsek jajaran Polres Serang Kota, personel Polres Serang Kota dan Polsek jajaran, serta komunitas gowes yang tergabung dalam Goweser Nusantara sejumlah 1500 orang.

Ribuan peserta Gowes Nusantara mengayuh sepedanya dengan penuh semangat. Start dari alun-alun Kota Serang menempuh rute, Gunung Mas Taktakan dan kembali finish di Alun-alun Kota Serang.”

“Kita melaksanakan Gowes Nusantara menuju Pilkada Serentak 2020, yang aman damai dan sejuk. Menuju Indonesia maju dan sejahtera,” katanya.

Lebih lanjut Kapolres menghimbau, agar dalam pelaksanaan Pilkada nanti berjalan aman dan sejuk bagi masyarakat, khususnya Kota Serang.

“Agar dalam pelaksanaan Gowes ini seluruh peserta mengikuti kegiatan sesuai kemampuannya masing masing dan menjaga keselamatan di jalan,” tukasnya.

Oman peserta dari Komunitas Gowes yang tergabung dalam Goweser Nusantara mengatakan, kegiatan yang digelar Satgas Nusantara Polres Serang Kota merupakan kegiatan yang dinantikan oleh dirinya maupun anggota komunitasnya.

“Apalagi rutenya sangat seru dan menantang. Kegiatan ini perlu dilaksanakan untuk mengisi kegiatan bagi komunitas kami,” ucapnya.

Gowes Nusantara dirangkai dengan deklarasi. Dilanjutkan dengan penandatanganan pernyataan sikap Pilkada Serentak 2020. yang aman damai dan sejuk oleh peserta Gowes Nusantara. (*/yogi)

Continue Reading

EVENT-EXHIBITION

200 Tahun Multatuli, Lebak Adakan Nobar ‘Setelah Multatuli Pergi’

Published

on

LEBAK – Dalam rangka memperingati 200 tahun kelahiran Eduard Douwes Dekker atau yang lebih dikenal dengan Multatuli, Pemkab Lebak melalui Kepala Museum Multatuli adakan Nonton Bareng (Nobar) Film Dokumenter Setelah Multatuli Pergi. Bertempat di Pendopo Museum Multatuli, Sabtu (7/3/2020).

Bupati Lebak menjelaskan, dua tahun lalu museum yang mengusung tema antikolonialisme ini diresmikan, sebagai apresiasi terhadap warisan pengarang besar Belanda yang membawa spirit antikolonialisme lewat novelnya Max Haveelar.
Bupati juga menyampaikan setelah multatuli pergi berbagai capaian dapat dilihat dan dirasakan ditanah tercinta Lebak. Sarana dan prasarana yang memadai, akses dan konektivitas antarkecamatan terhubung dengan baik, serta pembangunan yang terus dilaksanakan semata-mata demi kesejahteraan dan kebaikan warga Lebak.

“Setelah Multatuli pergi berbagai kemudahan dapat kita saksikan, saat ini perempuan tidak lagi dibatasi geraknya dalam menduduki posisi-posisi penting, maka saya ingin mengajak perempuan-perempuan yang ada di Lebak ini untuk bersama-sama membangun Kabupaten Lebak menjadi lebih baik lagi,” ucap Bupati.

Sementara itu sejarawan Bonnie Triyana yang juga sebagai produser eksekutif film dokumenter Setelah Multatuli Pergi mengatakan, film ini dibuat sebagai ikhtiar mencari jawaban atas sederet pertanyaan seperti; apakah novel Max Haveelar ditulis berdasarkan fakta atau fiksi belaka, kemudian apakah benar kehidupan rakyat mengalami perubahan yang drastis dan substansial dua abad setelah multatuli pergi dan 75 tahun Indonesia Merdeka, atau apakah yang tersisa dari masa kolonial dalam kehidupan sehari-hari.

“Setelah diputar perdana malam ini, Film Dokumenter ini juga akan diputar keliling eropa, mulai dari Amsterdam, Brussel, Paris, Berlin dan Hamburg,” ungkap Bonnie,

Ia juga mengatakan film ini sengaja diputar perdana di Rangkasbitung karena Lebak lah tempat dimana Multatuli terinspirasi untuk menulis kisah-kisah penderitaan rakyat jajahan yang terwakili dalam cerita Saidjah dan Adinda dari desa Badur.

Bupati berharap film ini dapat membawa Kabupaten Lebak ke pentas dunia. “Saya harap film ini bisa menginspirasi semua lapisan masyarakat terutama anak muda di Kabupaten Lebak agar lebih menghargai sejarah,” tutupnya. (hendri/yogi)

Continue Reading
Advertisement

PERSONA

Trending